PENDEKATAN DALAM PENELITIAN SASTRA

Nov 26,2019
PENDEKATAN DALAM PENELITIAN SASTRA
Jack Parmin
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa

1. Pengantar
Dalam penelitian, juga penelitian sastra, umumnya terdapat tiga kegiatan utama yakni kegiatan pengumpulan data, penganalisisan data, dan penyajian hasil. Ketiga kegiatan itu menjadi utama dan pasti dikerjakan bagi sebuah penelitian. Jika ketiga kegiatan di atas menjadi yang utama, lalu di mana keberadaan pendekatan bagi sebuah penelitian, dalam hal ini penelitian sastra.

Secara tersurat pendekatan penelitian tidak tampak jika dilihat dari ketiga kegiatan utama dalam penelitian di atas. Pendekatan dalam penelitian sastra dapat menjadi dasar bagi ketiga kegiatan utama penelitian tersebut. Pendekatan dalam penelitian sastra hadir sebagai cara pandang, landasan berpikir, maupun kerangka (dan atau desain) dalam penelitian. Dalam hal ini pendekatan dalam penelitian sastra diperlukan kehadirannya senyampang terdapat kerelevanan dengan sumber data penelitian (karya sastra) dalam penelitian yang dimaksud serta teori (dan metode) yang akan digunakan. Dengan catatan bahwa penelitian tersebut memang memerlukan kehadiran pendekatan. Pendekatan penelitian dapat dikatakan sebagai payung bagi peneliti dan paradigma dalam penelitiannya.

Pendekatan (approach) berarti pandangan awal peneliti terhadap karya sastra, apakah karya sastra tersebut sebagai objek yang mandiri dengan pengertian terlepas dari kepentingan pengarang dan pembaca, apakah karya sastra tersebut sebagai objek yang dikaitkan dengan pengarang (pencipta), apakah karya sastra tersebut sebagai objek yang dikaitkan dengan kepentingan pembaca (penikmat), dan apakah karya sastra tersebu sebagai objek yang dikaitkan dengan kondisi sosial yang melingkunginya.

Sebagian besar penelitian, atau bahkan secara keseluruhan, ditentukan oleh tujuan penelitian. Dan pendekatan merupakan langkah awal dalam mewujudkan tujuan penelitian tersebut. Pendekatan merupakan pijakan dasar yang menentukan sikap peneliti dalam pemilihan teori, penerapan metode, dan penilaiannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan mendahului teori dan metode. Misalnya, apabila sebuah karya sastra dipandang sebagai ekspresi dunia batin dan pengalaman pengarang maka peneliti dapat menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan menggunakan metode (dan tentu saja seperangkat teori) yang berlaku di dalamnya, sedangkan penilaiannya haruslah sesuai dengan dunia pengarang yang bersangkutan.

Apabila sebuah karya sastra dipandang sebagai cermin atau gambaran kehidupan suatu masyarakat pada masa atau zaman tertentu, maka seorang peneliti dapat memanfaatkan sosiologi atau historiografi dengan segala kerumitannya dan penilaian pun harus relevan dengan kepentingan sosial.

Apabila sebuah karya sastra dipandang sebagai teks yang mandiri (berdiri sendiri dan otonom), atau struktur gagasannya dapat dibaca dan dipahami berdasarkan kata-kata dan kalimatnya sendiri, terlepas dari siapa pengarang dan kapan ditulis, maka seorang peneliti dapat menggunakan pendekatan strukturalisme sastra (dan tentu saja seperengkat teori) dan penilaiannya semata-mata bertumpu pada makna yang terserap dari teks yang bersangkutan.

Jika sebuah karya sastra dipandang bermakna apabila telah diserap oleh pembaca dari masa ke masa sehingga maknanya sudah teruji oleh sejarah (karya sastra merupakan harapan pembaca dalam memperoleh ‘sesuatu’ yang mungkin berupa ajaran moral, etika, norma, kebijakan, filsafat, dan lain-lain), maka seorang peneliti dapat memanfaatkan pendekatan resepsi sastra yang memihak kepentingan pembaca.

Di bawah ini disajikan beberapa pendekatan dalam penelitian sastra. Pendekatan-pendekatan yang tersaji di bawah ini bukan yang lengkap, namun demikian pendekatan-pendekatan di bawah ini umumnya digunakan sebagai pandangan awal (paradigma) dalam penelitian sastra. Melalui pendekatan yang dipilih (penentuan) inilah seorang peneliti sastra akan menentukan teori yang tepat bagi penelitiannya. Dan dalam perkembangannya, pendekatan dalam penelitian sastra akan terus berkembang dan bertambah (dan sebagian mulai jarang digunakan) seiring berkembangnya ilmu itu sendiri.

2. Beberapa Pendekatan dalam Penelitian Sastra
a. Pendekatan Mikro Sastra dan Makro Sastra
Pendekatan penelitian sastra yang awal dalam tulisan ini adalah yang dikemukakan oleh Tanaka. Tanaka (1976) membagi dua pendekatan besar dalam penelitian sastra, yakni pendekatan mikro sastra dan makro sastra. Pendekatan mikro sastra menganggap bahwa memahami (meneliti) sebuah karya sastra dapat berdiri sendiri (dilakukan) tanpa bantuan aspek lain yang melingkupinya/menyertainya. Pendekatan makro sastra beranggapan bahwa untuk memahami (meneliti) sebuah karya sastra diperlukan bantuan unsur di luar sastra (karya sastra yang diteliti).

Kedua pendekatan tersebut sejajar dengan yang disampaikan Wellek dan Warren (1989), yakni pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik merupakan pendekatan yang bertumpu pada karya sastra itu sendiri secara otonom. Pendekatan ekstrinsik merupakan pendekatan yang betumpu pada aspek-aspek di luar karya sastra yang diteliti, dengan mengedepankan konteks karya sastra di luar teks yang bersangkutan. Kedua pendekatan di atas hadir saling melengkapi dalam penelitian sastra.

Kedua pendekatan itu penting dalam penelitian sastra. Tidak ada yang lebih penting di antara keduanya. Idealnya, keduanya digunakan secara bersamaan. Namun demikian pemaksaan dengan digunakan secara bersamaan dapat juga berdampak kurang baik (tepat). Tidak semua karya sastra yang ditulis para pengarang menonjolkan kedua kedua ‘aspek’ yang dimaksud, yakni aspek karya sastra itu sendiri secara otonom maupun aspek di luar karya sastra.

b. Pendekatan Ekspresif, Objektif, Mimetik, dan Pragmatik
M.H. Abrams (1976) secara lebih khusus menyebutkan ada empat pendekatan dalam penelitian sastra. Keempat pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan ekspresif, objektif, mimetik, dan pragmatik. Jika disejajarkan dengan pendekatan sebelumnya, yakni intrinsik dan ekstrinsik (Welek dan Warren), pendekatan objektif sejajar dengan pendekatan intrinsik. Sementara pendekatan ekspresif, mimetik, dan prgmatik dapat disejajarkan dengan pendekatan ekstrinsik. Keempat pendekatan Abrams dijelaskan secara ringkas di bawah ini.

Pertama, pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang. Dengan demikian, apabila segala gagasan, cita rasa, emosi, ide, serta angan-angan merupakan ‘dunia dalam’ pengarang, maka karya sastra merupakan ‘dunia luar’ yang bersesuaian dengan dunia dalam itu. Dengan pendekatan tersebut, penilaian sastra tertuju pada emosi atau keadaan jiwa pengarang sehingga karya sastra merupakan sarana atau alat untuk memahami keadaan jiwa pengarang. Jika pendekatan ekspresif yang digunakan berarti penelitian ini menelaah hubungan karya sastra dengan dunia batin (pengalaman jiwa) pengarang. Pendekatan ini menonjol pada abad ke-19 atau pada zaman Romantik di Eropa.

Dengan kata lain, pendekatan ekspresif ini merupakan pendekatan dalam penelitian (karya sastra) yang menekankan fokus perhatiannya pada sastrawan (pengarang) selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai hasil ekspresi pengarang, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan (emosi) dan pikiran pengarang, atau sebagai produk (hasil) imajinasi pengarang yang bekerja (menulis) dengan menggunakan persepsi, pikiran atau perasaan. Karena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam penelitian sastra, diperlukan sejumlah data yang berkaitan dengan pribadi pengarang. Data yang berkaitan dengan pribadi pengarang dapat berupa kapan dan di mana pengarang dilahirkan, pendidikan, agama, latar belakang sosial budaya, pekerjaan (profesi lain yang disandangnya), status sosial dalam masyarakat, juga pandangan kelompok sosialnya.

Kedua, pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari dunia pengarang dan latar belakang sosial budaya zamannya sehingga karya sastra dapat dianalisis (diteliti) berdasarkan strukturnya sendiri. Dengan kata lain, karya sastra dapat dipahami berdasarkan segi (unsur-unsur) intrinsik yang melekat pada karya sastra tersebut. Penelitian sastra yang menggunakan pendekatan objektif berarti penelitian ini menelaah struktur karya sastra dengan kemungkinan membebaskannya dari dunia pengarang, pembaca, dan situasi zaman yang melatarbelakanginya.

Dengan kata lain, pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang maupun pembaca. Pendekatan ini juga dapat disejajarkan dengan pendekatan yang digagas Welek & Waren (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena peneliti lebih memfokuskan penelitiannya pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Ketiga, pendekatan mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dunia kehidupan nyata sebagaimana dikemukakan Plato dan Aristoteles. Plato berpendapat bahwa seni (baca: karya sastra) merupakan tiruan alam yang nilainya jauh di bawah realitas sosial dan ide, sedang Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu justru membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum karena seni (termasuk karya sastra) merupakan aktivitas manusia. Pandangan ini pada akhirnya berkembang jauh sehingga memunculkan sosiologi sastra (sebagai cabang ilmu dalam sastra maupun sebagai pendekatan dalam penelitian sastra) yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial atau gambaran kehidupan masyarakat; atau psikologi sastra (baik sebagai cabang ilmu dalam sastra maupun pendekatan dalam penelitian sastra) yang memandang karya sastra sebagai dokumen dunia batin masyarakat sebagaimana terwujud dalam dunia batin pengarang dan (atau melalui) tokoh-tokoh ciptaan pengarang. Menurut pandangan tersebut, karya sastra merupakan bentuk persepsi pengarang terhadap realitas kehidupan sosial suatu zaman sehingga pemahaman sastra berarti pengkajian hubungan antara karya sastra dan dunia ideologi yang berkembang di masyarakat dan zamannya. Jika pendekatan mimetik yang digunakan berarti penelitian tersebut menekankan perhatian atau analisisnya pada ketepatan atau kesesuaian karya sastra dengan objek yang dilukiskan.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pendekatan mimetik merupakan pendekatan yang dalam mengkaji (meleliti) karya sastra dengan memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini karya sastra (produk yang dihasilkan pengarang) dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan yang sebenarnya. Untuk dapat menerapkan pendekatan mimetik dalam penelitian sastra diperlukan sejumlah data yang berhubungan dengan realitas yang ada di luar karya sastra. Sejumlah data yang dimaksud, umumnya, berupa latar belakang atau sumber penciptaan karya sastra yang akan diteliti. Misalnya, novel yang ditulis dan diterbitkan pada tahun 1920-an yang berbicara topik “kawin paksa”, maka peneliti memerlukan data yang berkaitan dengan sumber dan budaya pada tahun tersebut, dapat berupa latar belakang sumber penciptaannya.

Keempat, pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang pemaknaan karya sastra ditentukan oleh publik pembaca selaku penerima karya sastra tersebut. Dalam hal ini, karya sastra dipandang sebagai karya seni yang berhasil (atau unggul) dan baik apabila bermanfaat bagi masyarakat atau pembacanya. Tolok ukurnya adalah pembaca, apakah pembaca dapat merasakan hal-hal yang menyenangkan, menghibur, atau mendidik. Pendekatan pragmatik ini dikembangkan dari fungsi sastra sebagaimana dirumuskan filsuf Horace, yaitu ‘menyenangkan dan berguna’ (dulce et utile). Jika pendekatan pragmatik yang digunakan berarti penelitian ini menelaah manfaat karya sastra bagi masyarakat atau publik pembaca.

Pendekatan pragmatik ini memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik (dan sosial), pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacannya.

Dapat pula dikatakan bahwa pendekatan ini meneliti (dan memahami) karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyaknya nilai-nilai tersebut terkandung dalam karya sastra maka semakin tinggi nilai (berhasil) karya sastra tersebut bagi pembacannya.

c. Pendekatan Struktural
Strukturalisme sering dipandang sebagai teori atau pendekatan dalam penelitian sastra. Pendekatan strukturalisme akan menjadi sisi pandang apa yang akan diungkap melalui karya sastra sedangkan teori adalah pisau pembedah analisisnya. Dasar strukturalis yaitu cara berpikir tentang dunia terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Dalam pandangan ini karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memliki struktur yang saling berkaitan satu sama lain. Struktur tersebut memiliki bagian yang sangat kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antarunsur secara keseluruhan.

Strukturalisme juga merupakan paham filsafat yang memandang dunia sebagai bentuk realitas berstruktur atau suatu hal yang tertib dan sebagai sebuah relasi dan keharusan. Jaringan relasi ini merupakan struktur yang bersifat otonom. Menurut Junus (Endraswara, 2011) strukturalisme dipahami sebagai bentuk, dan karya sastra merupakan suatu bentuk sehingga stukturalisme ini dianggap sebagai formalisme modern. Persamaan dari strukturalisme dan formalisme yaitu sama-sama mencari arti dari teks yang diteliti.

Ide dasar strukturalis adalah menolak kaum mimetik (yang menganggap karya sastra sebagai tiruan kenyataan), teori ekspresif (yang menganggap karya sastra sebagai ungkapan watak dan perasaan pengarang), dan menentang asumsi bahwa karya sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembaca. Pendek kata, strukturalisme menekankan pada otonomi penelitian sastra. Strukturalis hadir sebagai upaya melengkapi penelitian sastra yang ekspesivisme dan berbau historis. Menurut paham strukturalisme, paham ekspresivisme dan historis telah “gagal” dalam memahami karya sastra. Karena, selalu mengaitkan karya sastra dengan bidang lain. Padahal, karya sastra sendiri telah dibangun oleh kode-kode tertentu yang telah disepakati, sehingga memungkinkan pemahaman secara mandiri.

Pendekatan struktural memandang bahwa memahami sebuah karya sastra dapat dilihat dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembaca (Teeuw, 1984). Pendekatan ini mencoba melepaskan keterkaitan aspek lain yang menyertai kemunculan karya sastra sebagai sesuatu yang dapat berdiri sendiri.

Dalam penerapannya pendekatan struktural ini memahami karya sastra secara close reading (membaca karya sastra secara tertutup tanpa melihat pengarangnya, realitas, dan pembaca). Pendekatan ini mengkaji (meneliti) karya sastra tanpa melihat pengarang dan hubungan dengan realitasnya. Analisis pemaknaan (penelitian) difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra. Dalam hal ini setiap unsur intrinsik dianalisis dalam hubungannya dengan unsur intrinsik yang lain.

Pendekatan struktural dikembangkan oleh formalis Rusia (1915-1930). Latar belakang pendekatan ini keinginan membebaskan ilmu sastra dari kungkungan ilmu-ilmu yang lain. Tujuan pendekatan ini adalah membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetil, dan sedalam-dalamnya keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan maksud menyeluruh (Teeuw, 1984). Dengan kata lain, keutuhan pemaknaan karya sastra dapat dipahami melalui unsur intrinsik, tanpa bergantung unsur lain di luar keberadaan karya sastra itu sendiri.

d. Pendekatan Semiotik
Dalam penelitian sastra, pendekatan semiotik ini memandang sebuah karya sastra sebagai sebuah sistem tanda (semeion, bahasa Yunani yang berarti tanda). Secara sistematik, semiotik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem lambang, dan proses-proses perlambangan. Pemaknaan terhadap karya sastra tentu saja berpijak dari sistem tanda, perlambangan, dan proses perlambangan yang dimaksud.

Pendekatan semiotik ini memandang fenomena sosial dan budaya sebagai suatu sistem tanda. Tanda tersebut hadir juga dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam sebuah teks terdapat penggalan kalimat bendera putih di depan gang. Bendera yang dimaksud biasanya berwarna putih yang di dalamnya terdapat simbol ‘positif’ dengan warna mencolok, dapat berwarna hitam atau hijau. Berdasar penggalan kalimat tersebut, secara umum, orang akan berpikir ada salah satu keluarga di sekitar gang tersebut yang sedang berduka. Untuk memahami sistem tanda tersebut diperlukan pengetahuan tentang latar belakang sosial-budaya karya sastra tersebut kapan ditulis. Lebih lanjut, tanda dan sistemnya, dalam pendekatan ini terdiri dari dua aspek yaitu: penanda (hal yang menandai sesuatu) dan petanda (referent yang diacu). Manusia selalu berada dalam proses semiosis, yaitu memahami sesuatu yang ada di sekitar sebagai sistem tanda.

e. Pendekatan Reseptif
Resepsi berarti tanggapan. Dari pengertian tersebut dapat dipahami makna resepsi sastra adalah tanggapan dari pembaca terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan reseptif berarti sebuah pendekatan yang mencoba memahami dan menilai karya sastra berdasarkan tanggapan para pembacanya.

Bentuk tanggapan pembaca terhadap karya sastra dapat berupa tanggapan aktif dan tanggapan pasif. Tanggapan aktif ini pada akhirnya dapat berupa komentar, kritik, ulasan, atau resensi terhadap karya sastra tersebut. Tanggapan pasif, dapat diketahui dari bagaimana pembaca dapat memahami suatu karya sastra dan menemukan hakikat estétika di dalamnya. Tanggapan ini tidak dapat diketahui orang lain, bersifat persona dan ke dalam diri pembaca.
f. Pendekatan Biografis
Wellek dan Warren mengatakan bahwa pendekatan biografis adalah pendekatan yang tertua. Pendekatan biografis merupakan studi yang sistematis mengenai proses kreativitas. Kreativitas pengarang menjadi titik tumpu untuk memaknai sebuah karya sastra dalam pendekatan biografis ini. Subjek kreator (pengarang yang melahirkan karya sastra) dianggap sebagai sebagai asal-usul sebuah karya sastra. Arti sebuah karya sastra dengan demikian secara relatif sama dengan maksud, niat, keinginan, pesan, bahkan tujuan-tujuan tertentu sang kreatornya, yakni pengarang. Untuk memaknai (memahami) karya sastra dalam hal ini diperlukan seperangkat biografi pengarang, surat-surat pribadi, dokumen-dokumen penting terkait pengarang (foto, catatan media masa, ulasan, dan aktivitas pengarang), dan juga wawancara dengan pengarang. Dengan demikian, sebuah karya sastra yang lahir dianggap identik dengan riwayat hidup pengarang, pernyataan-pernyataan pengarang dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Sebagai bagian dari masyarakat, seorang pengarang tentu akan lebih berhasil jika menuliskan tentang masyarakat yang menjadi bagian dari dirinya sendiri, segala hal yang dilihat dan dialaminya bersama masyarakat yang tidak hanya dikenalinya tetapi dijalaninya dalam kehidupan keseharian. Pengarang yang meskipun telah dianggap “mengawini” masyarakatnya, dalam hal kreativitas, tetap memerlukan “riset” terhadap masyarakatnya sendiri sebelum dituangkan ke dalam karya sastranya. Dalam kaitannya dengan aktivitas kreatif (proses kreatif) tersebut, seorang pengarang dibedakan menjadi tiga macam, yakni: (a) pengarang yang mengarang berdasarkan pengalaman langsung; (b) pengarang yang mengarang berdasarkan keterampilan dalam penyusunan kembali unsur-unsur penceritaan; dan (3) pengarang yang mengarang berdasarkan kekuatan imajinasinya. Yang diidealkan adalah seorang pengarang yang mampu melahirkan karya sastra karena proses ketiganya dilibatkan tanpa pemisahan.


g. Pendekatan Sosiologis
Pada mulanya adalah sosiologi sastra yang merupakan perkawinan ilmu sosiologi dan sastra. Sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dan masyarakat, telaah tentang lembaga sosial dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada.

Karya (sastra sebagai hasil ciptaan) manusia (sastrawan) mencoba memahami dan menggambarkan kembali realitas yang terjadi dalam masyarakat, lalu diekspresikan melalui media bahasa, dan menjadi karya sastra yang dapat bergenre novel, cerpen, puisi, lakon, atau yang lain.

Karya sastra (baca: prosa), khususnya novel, menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya. Sastra (baca: karya sastra) merupakan institusi sosial, dokumen sosial yang mencatat kenyataan sosial budaya suatu masyarakat pada masa tertentu, sarana memahami realitas sosial, cermin realitas, model kehidupan. Dan sosiologi sastra adalah hasil perkwainan itu, yang melihat ‘masyarakat’ sebagai titik tumpunya. Karya sastra tidak bisa dipahami secara utuh jika dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan atau peradaban yang telah menghasilkannya karena karya sastra tidak bisa terlepas dari realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Pendekatan sosiologis adalah tahapan berikutnya.

Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik. Pendekatan ini memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatannya. Pendekatan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat lepas dari realitas sosial yang terjadi di suatu masyarakat (Damono 1979).

Pendekatan sosiologis, sepanjang sejarahnya, khususnya di dunia Barat, selalu menduduki posisi penting. Dasar filosofis pendekatan sosiologis adalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dan masyarakat. Hubungan tersebut disebabkan oleh (a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, (b) pengarang adalah anggota masyarakat, (c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat, dan (d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat (Ratna, 2004).

Pendekatan sosiologis ini, khususnya di Indonesia, tidak akan pernah kering. Mengapa demikian? Karena karya sastra Indonesia akan selalu memberi peluang munculnya aspek-aspek sosial (kemasyarakatan) yang tidak pernah berhenti dari segi kurun waktu maupun wilayah yang berbeda. Masyarakat Indonesia yang beragam adalah rujukan bagi munculnya aspek sosial yang juga beragam dalam karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang Indonesia yang juga berasal dari latar sosial yang beragam.

h. Pendekatan Psikologis
Kemunculannya memiliki kemiripan seperti pendekatan sosiologi sastra. Bermula dari dua cabang ilmu, yakni psikologi dan sastra. Titik pertemuannya ada pada manusia, menjadi psikologi sastra. Selanjutnya muncullah pendekatan psikologi sastra. Pendekatan ini merupakan studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra (menginterpretasikan dan menilai karya sastra dengan psikologi) yang merupakan kajian utama dalam psikologi sastra.

Wellek dan Waren mengemukakan empat model pendekatan psikologis, yang dikaitkan dengan studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi, kedua studi proses kreatif, ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam karya sastra, dan keempat terasa lebih dekat pada sosiologi pembaca. Meskipun demikian, pendekatan psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama, yakni pengarang, karya sastra, dan pembaca. Dari ketiganya, yang lebih utama adalah pengarang dan karya sastra. Jika perhatian lebih diarahkan kepada aspek pengarang, maka penelitian ini mengarah pada pendekatan ekspresif. Jika titik perhatian diarahkan ke aspek karya sastra, maka penelitian mengarah pada pendekatan objektif.

Pada sisi lain, pendekatan psikologis awal terasa lebih dekat dengan pendekatan biografis. Hal itu dapat dimaklumi karena penelitiannya lebih menekankan dan memanfaatkan data-data personal pengarang, misalnya biografi pengarang.

i. Pendekatan Antropologis
Ilmu sosial (juga sastra) akan berkembang dengan memanfaatkan dan bersinggungan dengan ilmu-ilmu di luar dirinya. Perpaduan berbagai bidang ilmu tak bisa dipungkiri akan terjadi juga. Setelah sosiologi sastra, muncul psikologi sastra, dan kemudian antropologi sastra. Dalam bidang penelitian pun berkembang sejajar/segaris. Kemunculan pendekatan multidisipliner tak bisa dielakkan karena hal ini semakin menarik dan menantang peneliti. Pendekatan antropologis tak bisa dielakkan lahir karena anologi dari sebelumnya.

Lahirnya pendekatan antropologis didasari oleh beberapa alasan. Pertama, adanya hubungan antara ilmu antropologi dengan bahasa. Kedua, dikaitkan dengan tradisi lisan, baik antropologi maupun sastra sama-sama mempermasalahkannya sebagai objek penting.

Pokok-pokok bahasan yang ditawarkan dalam pendekatan antropologis adalah bahasa sebagaimana dimanfaatkan dalam karya sastra sebagai struktur naratif, diantaranya: a) Aspek-aspek naratif karya sastra dari kebudayaan yang berbeda-beda; b) Penelitian aspek naratif sejak epik yang paling awal hinga novel yang paling modern; c) Bentuk-bentuk arkhais dalam karya sastra, dalam konteks karya individual maupun generasi; d) Bentuk-bentuk mitos dan sistem religi dalam karya sastra; dan e) Pengaruh mitos, sistem religi dan citra primordial yang lain dalam kebudayaan populer (Ratna, 2004).

j. Pendekatan Historis (Sejarah)
Pendekatan historis (sejarah) mempertimbangkan historisitas karya sastra yang diteliti, yang dibedakan dengan sejarah sastra sebagai perkembangan sastra sejak awal hingga sekarang, sastra sejarah sebagai karya sastra yang mengandung unsur-unsur sejarah, dan novel sejarah, novel dengan unsur-unsur sejarah. Pendekatan sejarah paling tepat digunakan untuk meneliti sastra sejarah dan novel sejarah. Meski demikian bukan tidak mungkin karya sastra yang tidak dominan unsur-unsur kesejarahannya tidak dapat dianalisis (diteliti) secara historis. Hakikat penelitian adalah justru terletak dalam menemukan gejala-gejala yang disembunyikan. (Ratna, 2004).

Pendekatan historis menelusuri arti dan makna bahasa sebagaimana yang sudah tertulis, dipahami saat ditulis. Pendekatan historis perhatiannya dipusatkan pada masalah bagaimana hubungannya terhadap karya yang lain, sehingga dapat diketahui kualitas unsur-unsur kesejarahannya. Pendekatan historis mempertimbangkan relevansi karya sastra sebagai dokumen sosial. Pendekatan historis secara umum relevan dengan sejarah sastra tradisional.

Tugas utama sejarah sastra adalah menempatkan karya sastra dalam suatu tradisi, sedangkan bagaimana cara menempatkan adalah tugas pendekatan sejarah. Beberapa masalah yang menjadi objek sasaran pendekatan historis antara lain di bawah ini. a) Perubahan karya sastra dengan bahasanya sebagai akibat proses penerbitan ulang; b) Fungsi dan tujuan karya sastra pada saat diterbitkan; c) Kedudukan pengarang pada saat menulis; dan d) Karya sastra sebagai wakil tradisi zamannya (Ratna, 2004).

k. Pendekatan Mitopoik
Istilah mythopoic berasal dari kata myth yang berarti mitos. Mitos merupakan cerita anonim yang berakar dalam kebudayaan primitf (kuno). Awalnya, mitos diartikan sebagai imajinasi yang sederhana dan primitif untuk menyusun sustu cerita. Dalam pengertian modern, mitos merupakan struktur cerita itu sendiri. Karya sastra bukan mitos, tetapi sebagai bentuk estetis karya sastra adalah manifestasi mitos itu sendiri.

Dasar pendekatan mitopoik adalah seniman memanfaatkan ketaksadaran masa lampau dalam mencipta karya sastranya. Ketaksadaran masa lampau ada dua, yakni (1) ketaksadaran personal yang diterima dalam kehidupan sekarang (ontogenesis) dan (2) ketaksadaran impersonal yang diterima melalui nenek moyang (filogenesis). Pengarang mengarang berdasarkan mitos tertentu, mitos sebagai struktur (Ratna, 2004).

Pendekatan mitopoik dianggap paling pluralis karena memasukkan hampir semua unsur kebudayaan, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, agama, filsafat, dan kesenian. Pendekatan ini boleh jai disebut juga pendekatan holistik.

l. Pendekatan Filsafat
Filsafat dan sastra ibarat dua sisi mata uang. Sisi yang satu tidak dapat dipisahkan dengan sisi yang lain. Hubungan keduanya bersifat komplementer atau saling mengisi dan melengkapi.

Bagaimanapun perbedaan yang terdapat dalam filsafat dan sastra, muara keduanya tetaplah sama, yaitu manusia dan kehidupannya. Filsafat dan sastra merupakan refleksi atas kehidupan manusia.

Sejak manusia mengenal mitos, sejak itu pula hubungan filsafat dan sastra tidak bisa dipisahkan. Banyak filsafat yang dituangkan dalam bentuk sastra. Hal ini merupakan salah satu cara filsafat menyentuh masyarakat dengan segala pencerahan kehidupan yang dikandungnya. Dapat dipahami bahwa dalam konteks tersebut, sastra merupakan corong filsafat dalam menyentuh masyarakat.

Dalam konteks sastra merupakan corong filsafat dalam menyentuh masyarakat, dapat dipahami bahwa sastra merupakan penghubung filsafat dengan masyarakat. Filsafat yang dikenal menggunakan ‘bahasa yang tinggi’ dan abstrak, menjadikannya sulit dipahami. Dengan adanya sastra sebagai corong filsafat, maka dengan mudah masyarakat memperoleh pencerahan kehidupan dari filsafat tersebut.

Selain sebagai corong filsafat untuk menyentuh masyarakat, sastra juga dapat berfungsi sebagai lahan filsafat untuk mengembangkan dahan-dahan falsafahnya. Sastra sebagai cermin kehidupan yang menyajikan cerita-cerita kehidupan adalah wadah filsuf dalam mengembangkan falsafah-falsafah baru bagi kehidupan manusia. Kehidupan yang terus berkembang tersebut (yang terurai dalam karya sastra) pada akhirnya terus diikuti oleh perkembangan filsafat yang berfungsi sebagai pemberi cahaya dalam kehidupan manusia agar lebih memiliki makna.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami hubungan filsafat dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang bersifat komplementer. Filsafat tanpa sastra akan kehilangan salah satu corongnya dalam menyentuh kehidupan masyarakat. Apabila filsafat sudah tidak lagi bisa menyentuh masyarakat, maka filsafat akan kehilangan eksistensinya. Demikian pula dengan sastra. Sastra tanpa muatan falsafah kehidupan akan kehilangan ‘kesakralannya’.

Dalam kaitannya dengan penelitian, pendekatan filsafat adalah upaya untuk menganalisis nilai-nilai kehidupan manusia yang dijabarkan pengarang dalam karya sastranya; menganalisis karya sastra dengan latar belakang sastra merupakan bagian dari kehidupan manusia, sastra sebagai pranata sosial yang menggambarkan keadaan masyarakat dan kehidupan budaya pada masa tertentu, dan sastra sebagai refleksi kehidupan manusia dengan Tuhan; menganalisis falsafah kehidupan yang menempatkan nilai kemanusiaan dengan semestinya, terutama di tengah-tengah kehidupan kemajuan sains dan teknologi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan filsafat adalah pendekatan yang berupaya mengupas hakikat nilai-nilai kehidupan manusia yang terkandung dalam karya sastra. Kehidupan manusia tersebut (beberapa di antaranya) meliputi hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal), manusia dengan alam (hubungan horizontal), hingga manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal).

Penelitian sastra dengan pendekatan filsafat seyogyanya dilakukan dengan menggunakan kaidah ilmiah, seperti: (1) pembacaan literatur, (2) penentuan dugaan, (3) pengarahan atau penjelasan, (3) pembuatan generalisasi, (3) dan pelaksanaan perbandingan. Selanjutnya, penelitian dilakukan dengan metode yang berlaku bagi pelbagai penelitian filsafat sastra: (1) interpretasi, (2) induksi dan deduksi, (3) koherensi intern, (4) holistika, (5) kesinambungan histories, (6) idealisasi, (7) komparasi, (8) heuristika, (9) bahasa inklusif atau analogal dan (10). deskripsi.

Ketika melaksanakan penelitian berbasis pendekatan filsafat, peneliti harus menggunakan kegiatan berpikir filosofis: (1) hakiki, (2) mendasar, (3) menyeluruh, (4) radikal, (5) kritis, (6) objektif, (7) sistematis, (8) spekulatif, dan (9) logis.
m. Pendekatan Moral Di samping karya sastra dapat dibahas dan diteliti berdasarkan sejumlah pendekatan yang telah diuraikan sebelumnya, karya sastra juga dapat dibahas dan diteliti dengan pendekatan moral. Sejauh manakah sebuah karya sastra menawarkan refleksi moralitas kepada pembacanya. Yang dimaksudkan dengan moral adalah suatu norma etika, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnnya. Moral berkaitan erat dengan baik dan buruk. Pendekatan ini masuk dalam pendekatan pragmatik.

Pendekatan moral ini termasuk tipe pendekatan pragmatik karena pendekatan ini membahas hubungan antara karya sastra dan pembacanya, yaitu pesan moral yang disampaikan karya sastra kepada pembaca. Pendekatan ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa karya sastra dapat menjadi media yang paling efektif untuk membina moral dan kepribadian suatu kelompok masyarakat. Moral dapat dimaknai sebagai suatu norma, etika, konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi oleh sebagian besar masyarakat.

Pendekatan ini dilandasi juga oleh pandangan yang mengatakan bahwa karya sastra yang baik selalu memberikan pesan moral kepada pembaca untuk berbuat baik, yaitu mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma sosial. Karya sastra dianggap mampu mempengaruhi pembaca untuk mengetahui sesuatu yang baik dan pada tahapan berikutnya melakukan sesuatu yang baik tersebut dalam keseharian sebagaimana pesan yang disampaikan karya sastra. Karya sastra dianggap sebagai sarana pendidikan moral.
n. Pendekatan Feminisme
Kata feminisme memiliki sejumlah pengertian. Menurut Humm (2007) feminisme menggabungkan doktrin persamaan hak bagi perempuan yang menjadi gerakan yang terorganisasi untuk mencapai hak asasi perempuan, dengan sebuah ideologi transformasi sosial yang bertujuan untuk menciptakan dunia bagi perempuan. Selanjutnya Humm menyatakan bahwa feminisme merupakan ideologi pembebasan perempuan dengan keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya. Feminisme menawarkan berbagai analisis mengenai penyebab, pelaku dari penindasan perempuan. Pemikiran dan gerakan feminisme lahir untuk mengakhiri dominasi laki-laki terhadap perempuan yang terjadi dalam masyarakat. Melalui proyek (pemikiran dan gerakan) feminisme harus dihancurkan struktur budaya, seni, gereja, hukum, keluarga inti yang berdasarkan pada kekuasaan ayah dan negara, juga semua citra, institusi, adat istiadat, dan kebiasaan yang menjadikan perempuan sebagai korban yang tidak dihargai dan tidak tampak.

Abrams mengatakan bahwa feminisme sebagai aliran pemikiran dan gerakan berawal dari kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada 1785. Menjelang abad ke-19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa berupaya memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood (persaudaraan perempuan yang bersifat universal).

Sejak kemunculannya pertama kali di Amerika, Eropa, dan Prancis, (gerakan) feminisme telah mengalami perkembangan dan penyebaran yang cukup pesat ke berbagai negara di penjuru dunia. Perkembangan dan penyebaran feminisme tersebut telah memunculkan beberapa istilah feminisme, antara lain gelombang pertama, feminisme gelombang kedua, feminisme gelombang ketiga, posfeminisme, bahkan muncul istilah selanjutnya yakni feminisme Islam dan feminisme dunia ketiga. Feminisme juga dibedakan berbadarkan aliran pemikirannya, sehingga memunculkan beberapa istilah, misalnya feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis dan sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme posmodern, feminisme multikultural dan global, ekofeminisme, dan tentu saja feminisme Islam.

Sebagai sebuah pendekatan dalam penelitian sastra, pendekatan feminisme ialah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra (Djananegara, 2000).

Pendekatan feminisme mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya-karyanya.

Dalam paradigma perkembangan penelitian sastra, pendekatan feminis dianggap sebagai analisis (penelitian) yang bersifat revolusioner yang ingin menumbangkan wacana yang dominan yang dibentuk oleh suara tradisional yang bersifat patriarki. Tujuan penelitian yang menggunakan pendekatan feminis adalah menganalisis relasi gender, situasi ketika perempuan berada dalam dominasi laki-laki. Pendekatan feminis memiliki berbagai ragam, yaitu: 1) analisis sastra feminis perempuan sebagai pembaca (the woman as reader/feminist critique), yang memahami karya sastra dari perspektif perempuan; 2) analisis sastra feminis yang melihat perempuan sebagai penulis (the woman as writer/gynocritics); 3) analisis feminis psikoanalisis; 4) analisis feminis marxis; serta 5) analisis feminis hitam dan lesbian.
3. Penutup
Setiap peneliti sastra dituntut cermat memilih dan menentukan pendekatan penelitian. Penentuan pendekatan berpengaruh pada teori serta penerapan penelitian. Seperti halnya teori yang digunakan untuk membedah karya sastra yang dinamis dari waktu ke waktu, pendekatan penelitian (sastra) pun berkembang cukup dinamis. Artinya, tidak ada kebakuan yang memonumenkan sebuah pendekatan. Misalnya, pada waktu tertentu pendekatan A sering digunakan dalam penelitian sastra karena beriring dengan teori A pula. Pendekatan psikologis tentu akan diiringi dengan teori psikologi (psikologi sastra) tertentu yang diterapkan pada karya sastra. Demikian juga, misalnya, pendekatan sosiologis akan dibarengi dengan kehadiran teori-teori terkait, yakni teori sosiologi sastra.

Di satu sisi, pendekatan sastra beriring dengan teori sastra yang digunakan, pada sisi lain, pendekatan sastra dapat berbeda dengan teori sastra yang digunakan untuk membedah karya sastra. Inilah keunikan pendekatan dalam penelitian sastra.
Beberapa Rujukan (Referensi) Terkait Penelitian Sastra
A. Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
Allen, Pamela. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi: Re-Interpretasi Fiksi Indonesia 1980—1995. Penerjemah Bakdi Soemanto. Magelang: IndonesiaTera.
Aminuddin. 1997. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Sastra Indonesia. Semarang: IKIP Semarang Press.
Anwar, Ahyar. 2010. Teori Sosial Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Terjemahan M. Dwi Marianto. Sleman-Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatis. Editor Terjemahan: Abdul Syukur Ibrahim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Brooks, Ann. 2005. Postfeminisme dan Culture Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Terjemahan S. Kunto Adi Wibowo. Yogyakarta: Jalasutra.
Creswell, John W. 2014. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Penerjemah Achmad Fawaid. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS.
Endraswara, Suwardi. 2012. Metode Penelitian Filsafat Sastra. Yogyakarta: Layar Kata.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Antropologi Sastra. Yogyakarta: Ombak.
Eriyanto. 2015. Analisis Naratif: Dasar-dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media. Jakarta: Prenadamedia Grup.
Faruk. 2002. Novel-novel Indonesia: Tradisi Balai Pustaka 1920—1942. Yogyakarta: Gama Media.
Faruk. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni dan Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faruk. 2012. Novel Indonesia, Kolonialisme, dan Ideologi Emansipatoris. Yogyakarta: Ombak.
Gandhi, Leela. 1998. Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Penerjemah: Yuwan Wahyutri dan Nur Hamidah. Yogyakarta: Qalam.
Geertz, Clifford. 2014. Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. Penerjemah Aswab Mahasin dan Bur Rasuanto. Depok: Komunitas Bambu.
Ida, Rachmah. 2014. Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media Group.
Jabrohim (ed.). 2012. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia dan Pustaka Pelajar.
Keith Foulcher dan Tony Day (Editor). 2008. Sastra Indonesia Modern: Kritik Postkolonial. Terjemahan: Koesalah Soebagyo Toer dan Monique Soesman. Jakarta: KITLV-Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia.Koh Young Hun. 2011. Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Postmodernisme, Teori, dan Metode. Jakarta: Rajawali Press.
Minderop, Albertine. 2010. Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.Mulyana, Deddy. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Edisi Revisi. Yogyakarta: UGM Press.
Palmer, Richard E. 2003. Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Interpretasi. Terjemahan Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Piaget, Jean. 1995. Strukturalisme. Diterjemahkan oleh Hermoyo. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Tanda. Yogyakarta: Jalasutra.
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2007. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Pradopo, Rachmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Poststrukturalisme, Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Postkolonialisme Indonesia: Relevansi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Ricouer, Paul. 2012. Teori Interpretasi: Memahami Teks, Penafsiran, dan Metodologinya. Banguntapan, Yogyakarta: IRCiSoD.
Rohman, Saifur. 2014. Dekonstruksi: Desain Penelitian dan Analisis. Yogyakarta: Ombak. Rusmana, Dadan. 2014. Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural hingga Dekonstruksi Praktis. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.
Scholes, Robert. 1977. Structuralisme in Literature: an Introduction. New Haven and London: Yale University Press.
Sobur, Alex. 2014. Komunikasi Naratif: Paradgma, Analisis, dan Aplikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar Terkembang. Bandung: Penerbit Katarsis.
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Terjemahan Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sturrock, John (ed.). 2004. Strukturalisme Post-strukturalisme: Dari Levi-Strauss sampai Derrida. Surabaya: JP Press.
Sudikan, Setya Yuwana. 2014. Metode Penelitian Sasra Lisan: Paradigma, Pendekatan, Teori, Konsep, Teknik Penyusunan Proposal, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data, dan Teknik Penulisan Laporan. Lamongan: Pustaka Ilalang Group.
Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarya: Hanindita.Tanaka, Ronald. 1976. System Models for Literary Macro-Theory. Lisse: The Petter-de Ridder Press.
Taum, Yoseph Yapi. 2015. Sastra dan Politik: Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru. Jogjakarta: Sanata Dharma University Press.
Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis dan Cultural Studies: Tentang Relasi yang Belum Terselesaikan. Terjemahan Asma Bey Mahyuddin. Yogyakarta: Jalasutra.
Todorov, Tzvetan. 2012. Dasar-dasar Intertekstual: Pergulatan Mikhail Bakhtin Menuju Teori Sastra Terpadu. Terjemahan Jiwa Atmaja. Bali: Bali Media Adhikarsa.
Toha-Sarumpaet, Riris K. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Tong, Rosemarie Putnam. 2004. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Terjemahan Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra. Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989 (2014). Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia. YB Mangunwijaya. 1994. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Yudiono K.S. 2009. Pengkajian Kritik Sastra Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo).
Yunus, Umar. 1989. Stilistika, Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia. Catatan: Tulisan ini pernah disampaikan dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia (SENASI) 2 dengan tema “Sastra dan Industri Kreatif” di Unesa, 21 Mei 2016